Home » » Trivia

Trivia

Written By Jhun on Selasa, 05 Desember 2023 | 22.12

Awalnya aku dan istri bertandang ke kota Wina, Austria. Sewaktu kami jalan-jalan, aku kesandung potongan kertas kecil berisi puisi fotokopian. Potongan kertas kecil itu hanya ditempel di kerangka besi untuk renovasi rumah tua. Aku teliti satu persatu, aku tertumbuk lembaran kertas bertuliskan Helmuth Seethaler, seorang penyair jalanan kota Wina, Austria. Tak tanggung-tanggung ia sudah 30 tahun menulis puisi di pinggir jalan. Ia tidak menerbitkan buku puisi, cukup di kertas fotokopian dan ditempel di bawah bangunan tua yang sedang diperbaki. Di sana sini dikasih petunjuk, silakan ambil dan bawa pulang.

Aku agak terkejut pada satu lembaran kertas disebut, bahwa penyair nyentrik ini sudah berkali-kali diajukan ke pengadilan dan dijatuhi pasal vandalisme, karena dianggap pihak pemerintah kota, aksinya itu mengotori kota. Untuk itu ia meminta dukungan agar aksinya dianggap sebuah semacam performance art belaka.

Pada suatu ketika aku dan istriku bertandang ke kota Konstanz, pinggir danau Bodensee, Jerman. Aku selalu suka yang berbau sastra. Di antara deret pengamen jalanan, ada pengamen puisi. Gila? Benar, ia seorang pengangguran, tapi lulusan insinyur bangunan Jerman. Ia menaruh kertas di papan yang berisi daftar puisi. Persis daftar menu makanan di restoran. Misalkan puisi judul Herbst (Musim Gugur) karya Herman Hesse harga 1 Euro. Puisi karya Goethe, Schiller, dan  Rilke seharga 2 Euro. Aku pun pesan puisi Musim Gugur karya Hesse. Pak tua itu langsung beraksi, melafalkan seluruh baris puisi dengan suara sedang. Tanpa gesture dan mimik layaknya murid SD di Indonesia baca puisi, pasti deklamasi. Tetapi yang mengagumkan semua baris puisi itu sudah dihafal di luar kepala dan jumlahnya banyak.

Atas dua temuan di atas, di Wina dan Kosntanz itu, aku membuat eksperimen di kotaku Zug, Switzerland. Sejak tahun 2010, 8 tahun silam aku mengadakan aksi puisi di pinggir danau Zug. Tentu aku harus bekerja sama dengan wadah anak muda lokal bernama Jugend Animation Zug (JAZ). Terutama untuk urusan perizinan ke kantor kepolisian setempat.

Kombinasi dari temuan di atas aku namai Jemuran Poesie dengan 4 ajakan 1) Petiklah Poesie 2) Tulislah Poesie 3)Bacalah Poesie 4)Dengarkanlah orang lain baca puisi.

Peratalan yang aku siapkan cukup sederhana dan sangat murah. Ada benang string, kertas warna-warni, lem, jepitan jemuran dan fotokopian puisi. Setelah puisi aku kumpulkan dari buku, dari teman-teman dekat, dari internet, maka aku fotokopi.

Supaya tampak artistik, maka jika puisi bertema perpisahan, seperti puisi Abschied (Selamat Berpisah) karya Pablo Neruda, maka aku sesuaikan kertasnya berilustrasi tangan. Bahkan tepi kertas fotokopian puisi itu tidak aku gunting seperti layaknya, tetapi aku bakar dengan jilatan api lilin, agar tampak alami. Setelah kertas fotokopian yang tipis itu siap, perlu dilem ke kertas yang lebh tebal, seperti kartun. Tujuannya, jika kelak dijapit di benang, maka tidak terombang-ambing angin.

Jika semua peralatan puisi sudah siap, maka 2 benang dipancangkan di bawah pohon, atas dan bawah, keliling. Puisi-puisi itu siap dijapit jepitan jemuran atas dan bawah, persis menjapit kaus atau celana di tali jemuran. Sebab itulah aku namai Jemuran Poesie.

 

0 komentar:

Posting Komentar