Aku
agak terkejut pada satu lembaran kertas disebut, bahwa penyair nyentrik ini
sudah berkali-kali diajukan ke pengadilan dan dijatuhi pasal vandalisme, karena
dianggap pihak pemerintah kota, aksinya itu mengotori kota. Untuk itu ia
meminta dukungan agar aksinya dianggap sebuah semacam performance art belaka.
Pada
suatu ketika aku dan istriku bertandang ke kota Konstanz, pinggir danau
Bodensee, Jerman. Aku selalu suka yang berbau sastra. Di antara deret pengamen
jalanan, ada pengamen puisi. Gila? Benar, ia seorang pengangguran, tapi lulusan
insinyur bangunan Jerman. Ia menaruh kertas di papan yang berisi daftar puisi.
Persis daftar menu makanan di restoran. Misalkan puisi judul Herbst (Musim Gugur) karya Herman Hesse
harga 1 Euro. Puisi karya Goethe, Schiller, dan
Rilke seharga 2 Euro. Aku pun pesan puisi Musim Gugur karya Hesse. Pak tua itu langsung beraksi, melafalkan
seluruh baris puisi dengan suara sedang. Tanpa gesture dan mimik layaknya murid
SD di Indonesia baca puisi, pasti deklamasi. Tetapi yang mengagumkan semua
baris puisi itu sudah dihafal di luar kepala dan jumlahnya banyak.
Atas
dua temuan di atas, di Wina dan Kosntanz itu, aku membuat eksperimen di kotaku
Zug, Switzerland. Sejak tahun 2010, 8 tahun silam aku mengadakan aksi puisi di
pinggir danau Zug. Tentu aku harus bekerja sama dengan wadah anak muda lokal
bernama Jugend Animation Zug (JAZ). Terutama untuk urusan perizinan ke kantor
kepolisian setempat.
Kombinasi
dari temuan di atas aku namai Jemuran Poesie dengan 4 ajakan 1) Petiklah Poesie
2) Tulislah Poesie 3)Bacalah Poesie 4)Dengarkanlah orang lain baca puisi.
Peratalan
yang aku siapkan cukup sederhana dan sangat murah. Ada benang string, kertas
warna-warni, lem, jepitan jemuran dan fotokopian puisi. Setelah puisi aku
kumpulkan dari buku, dari teman-teman dekat, dari internet, maka aku fotokopi.
Supaya
tampak artistik, maka jika puisi bertema perpisahan, seperti puisi Abschied (Selamat Berpisah) karya Pablo
Neruda, maka aku sesuaikan kertasnya berilustrasi tangan. Bahkan tepi kertas
fotokopian puisi itu tidak aku gunting seperti layaknya, tetapi aku bakar
dengan jilatan api lilin, agar tampak alami. Setelah kertas fotokopian yang
tipis itu siap, perlu dilem ke kertas yang lebh tebal, seperti kartun.
Tujuannya, jika kelak dijapit di benang, maka tidak terombang-ambing angin.
Jika
semua peralatan puisi sudah siap, maka 2 benang dipancangkan di bawah pohon,
atas dan bawah, keliling. Puisi-puisi
itu siap dijapit jepitan jemuran atas dan bawah, persis menjapit kaus atau
celana di tali jemuran. Sebab itulah aku namai Jemuran Poesie.

0 komentar:
Posting Komentar