Cerpen Abu Rifai
“Ibu, apa benar Bapak mati dibunuh?” tanya
Mahesa kepada sang Ibu yang sedang menyulam kain di ruang tamu. Dia berhenti
sejenak untuk menatap Mahesa.
“Benar?” tagih sang anak.
“Dari mana kamu punya pikiran seperti itu?”
“Simbah, Bu.”
Wajah tenang Maryati berubah kaget. Ya
Tuhan, pasti bapak mertuanya telah bicara hal-hal yang selama ini dia
rahasiakan rapat-rapat dari sang anak. Jika saja tadi Mahesa tidak dia izinkan
ke rumah kakeknya sendiri, pasti dia takkan menanyakan hal rumit ini.
“Benar, Bu?”
Maryati menghela napas. Dia menatap anak
semata wayang. Mahesa sudah besar sekarang, hampir tujuh belas tahun. Badan anak
lelaki itu sudah lebih tinggi darinya, dadanya bidang, kumis-kumis tipis
menghiasi bagian wajah di antara hidung dan mulutnya. Mahesa begitu mirip
dengan suaminya saat masih muda. Melihat penampilan anak itu yang sekarang,
mungkin bapak mertuanya berpikir Mahesa sudah siap untuk menerima kenyataan.
Sebenarnya, pertanyaan soal kematian sang
bapak sudah berulang kali Mahesa tanyakan sejak kecil. Dulu saat kecil, mungkin
Maryati bisa menjawab “Bapakmu sedang merantau” dengan mudah untuk menenangkan
Mahesa. Dia kemudian akan mengelus-elus kepala anak itu sebagai ucapan minta
maaf karena telah berbohong. Untuk beberapa waktu, anak yang kala itu masih
polos akan percaya. Pertanyaan sama baru akan muncul kembali beberapa bulan
kemudian, dan Maryati akan memberikan jawaban sama.
Namun kondisi sekarang sungguh berbeda.
Akal dewasa Mahesa takkan bisa memercayai alasan itu. Dia pasti akan terus
membantah, mendesak agar dirinya mengatakan yang sebenarnya.
“Mahesa sudah besar, Bu. Mahesa tak meminta apa-apa kecuali kejujuran Ibu tentang Bapak,” pinta anaknya lagi. Mata Mahesa sedikit berkaca-kaca. Harapan sekaligus kesedihan terpancar dari sana.
Sang Ibu yang kebingungan tak kunjung menjawab. Kasihat betul kamu, Nak, batin Maryati. Perempuan itu ingin jujur, namun dia bingung harus memulai dari mana. Jika dia memberitahu kenyataan menyakitkan itu, murka barangkali akan muncul dalam diri anak lelakinya. Dendam sekaligus rasa takut mungkin akan bersarang di hati Mahesa selamanya.
Dan tiba-tiba ingatan itu muncul lagi. Di
depan mata Maryati seolah ada kolase video mengerikan yang sengaja
diperlihatkan padanya. Tetes air mata mulai keluar di pojok matanya mengingat
pagi itu, saat sang suami diambil paksa orang-orang berseragam dan bertubuh
besar.
“Aku sama sekali tak terlibat apapun, Pak!”
bantah suaminya saat berusaha diglendeng.
Namun orang-orang itu tak peduli. Surahmat tetap mereka bawa dengan cara kasar.
Saat itu Maryati sedang hamil tua.
Berhari-hari dia sendirian di rumah. Dia tak tahu harus berbuat apa kecuali
menangis. Dia mulai membayangkan anaknya akan hidup hanya bersamanya dan
bertanya-tanya di mana keberadaan sang bapak. Kepalanya pasti akan pusing, dan
inilah yang terjadi sekarang.
Keajaiban sesungguhnya sempat datang. Dua
pekan setelah penangkapan, Surahmat datang ke rumah dalam keadaan babak belur. Mukanya
lebam, beberapa tulang patah, dan ada luka sayatan di perutnya.
“Biasa, dituduh memberontak,” kata sang
suami saat Maryati tanya. Adalah sebuah
keberuntungan baginya bisa pulang ke rumah setelah dibawa paksa. Biasanya,
siapa saja yang dijemput oleh orang-orang berseragam itu takkan kembali.
Keberadaan mereka tidak diketahui. Hidup atau mati berada di titik penuh tanya.
Maryati pun berucap syukur atas keselamatan
sang suami. Tetapi keadaan akhirnya lagi-lagi membawanya kepada tangis. Dengan kondisi
sebegitu terluka, kondisi Surahmat melemah. Luka sayatan di perutnya membusuk.
Konon, kata para tetangga, luka itu bukan luka biasa. Pisau yang digunakan
untuk menyayat telah diberikan racun.
“Kepulangannya percuma, Ti. Mereka tetap
saja membunuh suamimu, membunuh secara perlahan,” kata salah satu tetangganya.
Maka duka itu akhirnya menyelimuti di
penghujung September. Surahmat menghabiskan penderitaannya di bumi. Kematiannya
bertepatan dengan tangis pertama di bumi. Hari itu, azan dan iqamah
didengungkan dua kali untuk menyambut kematian dan kelahiran.
“Ibu? Ibu masih tak mau menjawab?”
“Lebih baik kau tak usah tahu, Le.”
“Kenapa, Bu?”
Hening datang sebentar sebelum Maryati
menjawab sambil menunduk, “Kau akan sedih dan marah.”
“Aku sudah besar, Bu. Sedih akan
kutanggung, begitu juga dengan rasa marah. Bukankah kesedihan dan kemarahan
wajar bagi manusia, apalagi untuk orang-orang seusiaku?”
Tak ada jawaban untuk pertanyaan itu.
Lagi-lagi Maryati memilih diam.
“Kalau Ibu tak ingin memberi tahu tentang
kematian Bapak, maka baiklah, Bu, tak apa. Namun setidaknya, beri tahu Mahesa
di mana Bapak dimakamkan, Bu. Mahesa ingin ziarah di makam Bapak.”
Raut wajah Mahesa kian kusut memelas
jawaban dari ibunya. Mahesa sebetulnya memang anak penurut dan tak pernah
meminta aneh-aneh kepada sang ibu. Saat ini, meski dia benar-benar penasaran
tentang kematian sang bapak, dia memutuskan mengalah, berhenti bertanya apakah
bapaknya memang dibunuh atau tidak. Pertanyaan itu barangkali membangkitkan
ingatan buruk Maryati, pikirnya. Namun sebagai seorang anak yang tak pernah
melihat sosok bapak dari kecil, tentu tetap ada rasa rindu yang bergejolak
dalam hatinya.
“Bu?” panggil Mahesa untuk kesekian kali,
“apa jangan-jangan Mahesa tak punya bapak?”
Kata-kata yang meluncur tak terkontrol dari
mulut Mahesa itu membuat Maryati tertegun. Dia menatap tajam anaknya yang
berani bicara lancang seperti itu. Telapak tangan perempuan itu akhirnya
mendarat di pipi Mahesa.
“Memang kau anggap Ibumu ini wanita macam
apa?”
Mahesa tak menjawab. Dia merasa bersalah
namun juga sedih karena tak mendapat jawaban apa-apa dari ibunya. Tak ada
kata-kata yang muncul; yang ada hanya bunyi pintu yang ditutup keras saat
Mahesa masuk ke dalam kamar. Saat itu pula, ada penyesalan yang timbul di hati
Maryati bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipinya. Untuk menghibur
diri, dia menyelakan radio pemberian bapak mertuanya dalam volume pelan. Sebuah
lagu sendu sedang diputar.
Setelah lagu itu berhenti, Maryati
mengganti saluran. Kini dia mendengarkan sebuah saluran berita. Dari radio yang
sudah sedikit kemeresak itu, dia mendengar si penyiar memberitakan bahwa Waduk Gajah
Mungkur di Wonogiri berhasil menjadi alat penyuplai air untuk berbagai
keperluan. Mendengar itu, lagi-lagi ingatannya muncul. Maryati ingat bahwa
desanya dulu adalah salah satu dari 51 desa yang digusur untuk proyek
pembangunan waduk. Pada tahun 1976—tahun yang sama saat dia kehilangan Surahmat,
dia terpaksa meninggalkan desa yang penuh kenangan dengan almarhum suaminya.
Sebenarnya, pemerintah menyediakan program bedol desa untuk warga-warga yang
tergusur. Mereka akan melakukan transmigrasi ke Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu
dan Sulawesi Selatan. Namun Maryati memilih jalan lain; dia memutuskan pergi ke
Semarang, tempat kediaman mertuanya.
Maryati menghela napas dalam-dalam.
Pikirannya sekarang tertuju pada Mahesa sang anak semata wayang. Mungkin sudah
seharusnya dia memberitahukan segalanya pada anak lelakinya. Maryati melangkah
gontai ke kamar Mahesa.
“Maafkan Ibu, Le,” lirih Maryati.
“Mahesa juga minta maaf, Bu.”
“Lekas persiapkan diri, kita akan berziarah
ke makam bapakmu.”
Mahesa tersenyum kepada ibunya. Saat senja
datang, mereka berdua telah berada di tepi sebuah waduk besar. Cahaya matahari
yang keemasan terpantul di permukaan air waduk.
“Bapakmu di sini,” jelas Maryati sambil menaburkan
bunga-bunga di air. Mahesa mengangguk dan sedikit tersenyum. Dia sudah lega
meski bunga-bunga yang dia tabur hanya di permukaan air, bukan di gundukan
tanah kuburan sang bapak.
Sambil memandang ke kedalaman waduk,
Maryati berpesan, “Berdoalah agar kemarau panjang datang supaya kau bisa
melihat nisan bapakmu dan menabur bunga di sana.” {}
Marcapada, 10 Oktober 2018
20.20 WIB


0 komentar:
Posting Komentar