Home » » Menunggu Kemarau di Makam Bapak

Menunggu Kemarau di Makam Bapak

Written By Jhun on Selasa, 05 Desember 2023 | 23.20


Cerpen Abu Rifai

“Ibu, apa benar Bapak mati dibunuh?” tanya Mahesa kepada sang Ibu yang sedang menyulam kain di ruang tamu. Dia berhenti sejenak untuk menatap Mahesa.

“Benar?” tagih sang anak.

“Dari mana kamu punya pikiran seperti itu?”

“Simbah, Bu.”

Wajah tenang Maryati berubah kaget. Ya Tuhan, pasti bapak mertuanya telah bicara hal-hal yang selama ini dia rahasiakan rapat-rapat dari sang anak. Jika saja tadi Mahesa tidak dia izinkan ke rumah kakeknya sendiri, pasti dia takkan menanyakan hal rumit ini.

“Benar, Bu?”

Maryati menghela napas. Dia menatap anak semata wayang. Mahesa sudah besar sekarang, hampir tujuh belas tahun. Badan anak lelaki itu sudah lebih tinggi darinya, dadanya bidang, kumis-kumis tipis menghiasi bagian wajah di antara hidung dan mulutnya. Mahesa begitu mirip dengan suaminya saat masih muda. Melihat penampilan anak itu yang sekarang, mungkin bapak mertuanya berpikir Mahesa sudah siap untuk menerima kenyataan.

Sebenarnya, pertanyaan soal kematian sang bapak sudah berulang kali Mahesa tanyakan sejak kecil. Dulu saat kecil, mungkin Maryati bisa menjawab “Bapakmu sedang merantau” dengan mudah untuk menenangkan Mahesa. Dia kemudian akan mengelus-elus kepala anak itu sebagai ucapan minta maaf karena telah berbohong. Untuk beberapa waktu, anak yang kala itu masih polos akan percaya. Pertanyaan sama baru akan muncul kembali beberapa bulan kemudian, dan Maryati akan memberikan jawaban sama.

Namun kondisi sekarang sungguh berbeda. Akal dewasa Mahesa takkan bisa memercayai alasan itu. Dia pasti akan terus membantah, mendesak agar dirinya mengatakan yang sebenarnya.

“Mahesa sudah besar, Bu. Mahesa tak meminta apa-apa kecuali kejujuran Ibu tentang Bapak,” pinta anaknya lagi. Mata Mahesa sedikit berkaca-kaca. Harapan sekaligus kesedihan terpancar dari sana.

Sang Ibu yang kebingungan tak kunjung menjawab. Kasihat betul kamu, Nak, batin Maryati. Perempuan itu ingin jujur, namun dia bingung harus memulai dari mana. Jika dia memberitahu kenyataan menyakitkan itu, murka barangkali akan muncul dalam diri anak lelakinya. Dendam sekaligus rasa takut mungkin akan bersarang di hati Mahesa selamanya.

Dan tiba-tiba ingatan itu muncul lagi. Di depan mata Maryati seolah ada kolase video mengerikan yang sengaja diperlihatkan padanya. Tetes air mata mulai keluar di pojok matanya mengingat pagi itu, saat sang suami diambil paksa orang-orang berseragam dan bertubuh besar.

“Aku sama sekali tak terlibat apapun, Pak!” bantah suaminya saat berusaha diglendeng. Namun orang-orang itu tak peduli. Surahmat tetap mereka bawa dengan cara kasar.

Saat itu Maryati sedang hamil tua. Berhari-hari dia sendirian di rumah. Dia tak tahu harus berbuat apa kecuali menangis. Dia mulai membayangkan anaknya akan hidup hanya bersamanya dan bertanya-tanya di mana keberadaan sang bapak. Kepalanya pasti akan pusing, dan inilah yang terjadi sekarang.

Keajaiban sesungguhnya sempat datang. Dua pekan setelah penangkapan, Surahmat datang ke rumah dalam keadaan babak belur. Mukanya lebam, beberapa tulang patah, dan ada luka sayatan di perutnya.

“Biasa, dituduh memberontak,” kata sang suami saat Maryati tanya.  Adalah sebuah keberuntungan baginya bisa pulang ke rumah setelah dibawa paksa. Biasanya, siapa saja yang dijemput oleh orang-orang berseragam itu takkan kembali. Keberadaan mereka tidak diketahui. Hidup atau mati berada di titik penuh tanya.

Maryati pun berucap syukur atas keselamatan sang suami. Tetapi keadaan akhirnya lagi-lagi membawanya kepada tangis. Dengan kondisi sebegitu terluka, kondisi Surahmat melemah. Luka sayatan di perutnya membusuk. Konon, kata para tetangga, luka itu bukan luka biasa. Pisau yang digunakan untuk menyayat telah diberikan racun.

“Kepulangannya percuma, Ti. Mereka tetap saja membunuh suamimu, membunuh secara perlahan,” kata salah satu tetangganya.

Maka duka itu akhirnya menyelimuti di penghujung September. Surahmat menghabiskan penderitaannya di bumi. Kematiannya bertepatan dengan tangis pertama di bumi. Hari itu, azan dan iqamah didengungkan dua kali untuk menyambut kematian dan kelahiran.

“Ibu? Ibu masih tak mau menjawab?”

“Lebih baik kau tak usah tahu, Le.”

“Kenapa, Bu?”

Hening datang sebentar sebelum Maryati menjawab sambil menunduk, “Kau akan sedih dan marah.”

“Aku sudah besar, Bu. Sedih akan kutanggung, begitu juga dengan rasa marah. Bukankah kesedihan dan kemarahan wajar bagi manusia, apalagi untuk orang-orang seusiaku?”

Tak ada jawaban untuk pertanyaan itu. Lagi-lagi Maryati memilih diam.

“Kalau Ibu tak ingin memberi tahu tentang kematian Bapak, maka baiklah, Bu, tak apa. Namun setidaknya, beri tahu Mahesa di mana Bapak dimakamkan, Bu. Mahesa ingin ziarah di makam Bapak.”

Raut wajah Mahesa kian kusut memelas jawaban dari ibunya. Mahesa sebetulnya memang anak penurut dan tak pernah meminta aneh-aneh kepada sang ibu. Saat ini, meski dia benar-benar penasaran tentang kematian sang bapak, dia memutuskan mengalah, berhenti bertanya apakah bapaknya memang dibunuh atau tidak. Pertanyaan itu barangkali membangkitkan ingatan buruk Maryati, pikirnya. Namun sebagai seorang anak yang tak pernah melihat sosok bapak dari kecil, tentu tetap ada rasa rindu yang bergejolak dalam hatinya.

“Bu?” panggil Mahesa untuk kesekian kali, “apa jangan-jangan Mahesa tak punya bapak?”

Kata-kata yang meluncur tak terkontrol dari mulut Mahesa itu membuat Maryati tertegun. Dia menatap tajam anaknya yang berani bicara lancang seperti itu. Telapak tangan perempuan itu akhirnya mendarat di pipi Mahesa.

“Memang kau anggap Ibumu ini wanita macam apa?”

Mahesa tak menjawab. Dia merasa bersalah namun juga sedih karena tak mendapat jawaban apa-apa dari ibunya. Tak ada kata-kata yang muncul; yang ada hanya bunyi pintu yang ditutup keras saat Mahesa masuk ke dalam kamar. Saat itu pula, ada penyesalan yang timbul di hati Maryati bersamaan dengan air mata yang mengalir di pipinya. Untuk menghibur diri, dia menyelakan radio pemberian bapak mertuanya dalam volume pelan. Sebuah lagu sendu sedang diputar.

Setelah lagu itu berhenti, Maryati mengganti saluran. Kini dia mendengarkan sebuah saluran berita. Dari radio yang sudah sedikit kemeresak itu, dia mendengar si penyiar memberitakan bahwa Waduk Gajah Mungkur di Wonogiri berhasil menjadi alat penyuplai air untuk berbagai keperluan. Mendengar itu, lagi-lagi ingatannya muncul. Maryati ingat bahwa desanya dulu adalah salah satu dari 51 desa yang digusur untuk proyek pembangunan waduk. Pada tahun 1976—tahun yang sama saat dia kehilangan Surahmat, dia terpaksa meninggalkan desa yang penuh kenangan dengan almarhum suaminya. Sebenarnya, pemerintah menyediakan program bedol desa untuk warga-warga yang tergusur. Mereka akan melakukan transmigrasi ke Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sulawesi Selatan. Namun Maryati memilih jalan lain; dia memutuskan pergi ke Semarang, tempat kediaman mertuanya.

Maryati menghela napas dalam-dalam. Pikirannya sekarang tertuju pada Mahesa sang anak semata wayang. Mungkin sudah seharusnya dia memberitahukan segalanya pada anak lelakinya. Maryati melangkah gontai ke kamar Mahesa.

“Maafkan Ibu, Le,” lirih Maryati.

“Mahesa juga minta maaf, Bu.”

“Lekas persiapkan diri, kita akan berziarah ke makam bapakmu.”

Mahesa tersenyum kepada ibunya. Saat senja datang, mereka berdua telah berada di tepi sebuah waduk besar. Cahaya matahari yang keemasan terpantul di permukaan air waduk.

“Bapakmu di sini,” jelas Maryati sambil menaburkan bunga-bunga di air. Mahesa mengangguk dan sedikit tersenyum. Dia sudah lega meski bunga-bunga yang dia tabur hanya di permukaan air, bukan di gundukan tanah kuburan sang bapak.

Sambil memandang ke kedalaman waduk, Maryati berpesan, “Berdoalah agar kemarau panjang datang supaya kau bisa melihat nisan bapakmu dan menabur bunga di sana.” {}

Marcapada, 10 Oktober 2018

20.20 WIB

0 komentar:

Posting Komentar