Oleh : Heru Ferdiansyah*
Namun demikian Globalisasi bukanlah kondisi tunggal
yang memberikan pengaruh seragam pada lingkungan, sebaliknya globalisasi
memberi wajah keanekaragaman. Disatu pihak globalisasi menciptakan homogenisasi
budaya yaitu penyeragaman cara, pola dan gaya hidup. Dipihak lain globalisasi
juga menciptakan heterogenisasi budaya, yaitu penganekaragaman cara, pola dan
gaya hidup.
Lingkungan urban banyak dibentuk oleh kehidupan
global kosmopolitan yang membangun ruang-ruang gaya hidup mereka masing-masing,
kelas menengah, eksekutif, kaum buruh, pelajar dan anak muda yang tidak bisa
terlepas dari budaya media seperti berita, musik, televisi dan film.
Salah satu gaya hidup yang mencakup semua kelas
salah satunya adalah film. Film merupakan salah satu budaya pop yang seringkali
diidentikan dengan budaya konsumerisme yang hanya mementingkan produksi budaya
konsumsi dan pengontrol ideologis yang bertujuan sebagai peraup keuntungan.
Namun hal itu bukanlah perkara yang dapat diputuskan
secara pasti diluar berbagai kemungkinan sejarah dan politik, bukan juga
berkara yang bisa dipahami hanya dari sebuah momen produksi yang hanya mengutamakan
keuntungan dalam bentuk materi.
Melainkan lebih kepada praktik produksi itu sendiri
yang meliputi penempatan makna, tanda, kesenangan, efek ideologis, dan
lain-lain secara bervariasi. Hal itulah yang memberi kekuatan pengaruh dalam industri
film.
Pengaruh Budaya Film
Produksi Film merupakan proses meluasnya pengaruh
kapitalisme dan sistem demokrasi liberal yang mampu menggiring ke arah
homogenisasi budaya, yang menyebabkan setiap produksi film di tiap negara,
tampak sama dan seragam, mulai narasi film, karakter kepahlawanan, bentuk
arsitektur, mobil, fashion, gadget dan gaya hidup serta budaya.
Homogenisasi Film barat (holliwood) menyebabkan nilai
film lokalitas semakin kehilangan karakter keunikannya. Film nyaris membuat
dunia tampak seragam dengan berbagai ikonitas film barat yang dapat ditemui
dimana saja mall, restoran, cafe, tempat hiburan, acara TV, fashion show, gaya
belanja, gaya pakaian, gaya rekreasi, gaya bermobil, gaya berkomunikasi. Superman
adalah adalah salah satu contoh simbol utama homogenisasi film. Yang menjadi
ikon dari budaya global dan budaya lokal sekaligus.
Film kini menjadi hal yang tak terpisahkan dari
penciptaan gaya hidup, yaitu gaya konsumsi yang dimuati dengan nilai tanda dan
makna simbolik tertentu untuk membentuk apa yang disebut gaya hidup modern.
Yasraf Amir piliang misalnya melihat dunia tanpa
batas, Dunia tanpa batas dicirikan oleh proses penghancuran batas,
pendekonstruksian benteng, penghancuran tembok pemisah dan batas-batas yang
menggiring pada budaya global.
Film telah menimbulkan persoalan serius akan batas
(limit) dan tapal batas (border),
termasuk batas dan tapal batas dalam lingkungan urban, batas kota dan
desa, negara maju dan negara miskin, ada semacam garis batas tegas yang
membatasi antara konsep itu. Antara gaya hidup kota dan desa yang secara
gamblang dimasukan dalam produksi film barat.
Beberapa negara termasuk Indonesia mengalami dampak
tersebut, mulai lunturnya batas di dunia tanpa batas telah memaksa budaya
lokalitas menerima pengaruh dari berbagai kekuatan budaya yang telah
didekonstruksikan dalam film, baik eksternal maupun internal dalam budaya
global dan lokal.
Perfilman di Indonesia
Lima tahun terakhir ini produksi film indonesia mengalami
kemunduran dari segi kualitas karena hanya menciptakan jenis film budaya lokal
dengan pasar lokal, yakni film-flm dengan tema horor pocong ngesot sampai
pocong mupeng, yang sesekali diselingi adegan syur maupun artis sexy yang
didatangkan dari negeri paman sam.
Membicarakan tentang globalisasi gaya hidup film
tidak dapat dipisahkan dari membicarakan tentang identitas (cultural identity)
dan perbedaan (culturan diffeence) sebagai dua fondasi utama dari gaya hidup.
Gaya hidup dibangun sebagai cara untuk memperlihatkan identitas sekaligus
melepaskan hasrat untuk berbeda, china sudah mulai dengan hal itu dimana
produksi film-film yang diciptakan berhubungan dengan sejarah atau perjuangan
china yang dapat bersaing dipasar global dan telah kita nikmati bersama.
Pada tingkat kultural globalisasi Film dapat
dipandang sebagai kontradiksi budaya berupa kehadiran dan kecenderungan budaya
berseberangan yang ditampilkan dalam sebuah slide film. Di satu pihak, film
dilihat sebagai homogenitas budaya yaitu penyeragaman kebudayaan-kebudayaan
yang sesungguhnya berbeda. Namun dipihak lain film juga dilihat sebagai
heterogenitas budaya, yaitu sebagai pengakuan akan nilai-nilai tradisi lokal.
Globalisasi Film tidak mengantikan atau mematikan
budaya lokal, akan tetapi malah secara signifikan menyumbang bagi pengembangan
dirinya, melalui proses pertukaran budaya. Misalnya aneka budaya lokal kita
meliputi makanan, arsitektur, pakaian, dan seni diangkat dalam film yang
berkualitas yang dapat bersaing dalam pasar global yang akan menciptakan proses
pertukaran saling berpengaruh, hibriditas dan silang budaya yang jauh lebih
kompleks. Film dapat dilihat sebagai pengkayaan kebudayaan, yang akan mendorong
ke arah reinterpretasi budaya lokal sehingga ia tampak lebih kaya dan kreatif.
Selain itu film dapat dilihat pula sebagai penyatuan
kebudayaan-kebudayaan berbeda kedalam budaya tunggal (monoculture) seperti Superman, Batman, Iron Man dll., tetapi
sekaligus juga sebagai penguatan budaya dan nilai-nilai lokal (heteroculture) misal Gatotkaca, Jaka
Tarub, dan Wiro Sableng.
Memang dalam produksi film yang berkualitas
memerlukan biaya yang sangat besar, dan beberapa pertimbangan apakah nanti film
akan laku, seberapa besar untungnya, hal itu merupakan pertanyaan yang
menghantui produksi film.
Tidak setiap sineas pandai selalu sukses dalam
memproduksi film, artis terkenal yang didatangkan dari negeri paman sam, sampai
lokasi syuting diluar negeri tidak menjamin sebuah film dapat bersaing di pasar
global.
Konsumsi
masyarakat kapitalisme global bukan hanya sekadar sarana pemenuhan nilai
kebutuhan dalam makna sempit, tetapi bagaimana membangun nilai-nilai simbolik
lokal, kultur, budaya, dan kekayaan alam indonesia menjadi menarik dan layak
dipertontonkan. Karena dengan film nilai simbolik dapat tercipta.
Daftar Pustaka
Storey,
John, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop, Yogyakarta: Jalasutra, 2006.
Piliang,
Y. Amir, Dunia yang Dilipat; Tamasya Melampaui Batas Kebudayaan, Bandung:
Pustaka Matahari, 2011.
Adlin,
Alfathri (ed.), Menggeledah Hasrat; Pendekatan Multi Perspektif, Yogyakarta:
Jalasutra, 2006.
Rogers,
Mary, Barbie Culture; Ikon Budaya Konsumerisme, Yogyakarta: Penerbit Bentang,
2003.
Dieter,
Nohlan (ed.), Kamus Dunia Ketiga, Jakarta: Grasindo, 2004.
![]()
Nama
: Heru Ferdiansyah
Nim :
3301410077
Jurusan/Prodi : PKn/PPKn
Mata
Kuliah : Persepektif Global
Dosen : Drs. At. Sugeng
Priyanto, M.si.
Giri Harto Wiratomo

0 komentar:
Posting Komentar