Home » » Globalisasi dan Produksi Budaya Film

Globalisasi dan Produksi Budaya Film

Written By Jhun on Rabu, 06 Desember 2023 | 23.18


Oleh : Heru Ferdiansyah*

Globalisasi tidak hanya mencakup faktor ekonomi saja tetapi telah mempengaruhi faktor informasi dan budaya termasuk gaya hidup. Globalisasi mempengaruhi berbagai lini kehidupan didalamnya, kondisi saling berubungan dan ketergantungan menciptakan garis-garis hubungan antara kehidupan satu dan lainnya dalam skala global.

Namun demikian Globalisasi bukanlah kondisi tunggal yang memberikan pengaruh seragam pada lingkungan, sebaliknya globalisasi memberi wajah keanekaragaman. Disatu pihak globalisasi menciptakan homogenisasi budaya yaitu penyeragaman cara, pola dan gaya hidup. Dipihak lain globalisasi juga menciptakan heterogenisasi budaya, yaitu penganekaragaman cara, pola dan gaya hidup.

Lingkungan urban banyak dibentuk oleh kehidupan global kosmopolitan yang membangun ruang-ruang gaya hidup mereka masing-masing, kelas menengah, eksekutif, kaum buruh, pelajar dan anak muda yang tidak bisa terlepas dari budaya media seperti berita, musik, televisi dan film.

Salah satu gaya hidup yang mencakup semua kelas salah satunya adalah film. Film merupakan salah satu budaya pop yang seringkali diidentikan dengan budaya konsumerisme yang hanya mementingkan produksi budaya konsumsi dan pengontrol ideologis yang bertujuan sebagai peraup keuntungan.

Namun hal itu bukanlah perkara yang dapat diputuskan secara pasti diluar berbagai kemungkinan sejarah dan politik, bukan juga berkara yang bisa dipahami hanya dari sebuah momen produksi yang hanya mengutamakan keuntungan dalam bentuk materi.

Melainkan lebih kepada praktik produksi itu sendiri yang meliputi penempatan makna, tanda, kesenangan, efek ideologis, dan lain-lain secara bervariasi. Hal itulah yang memberi kekuatan pengaruh dalam industri film.

Pengaruh Budaya Film

Produksi Film merupakan proses meluasnya pengaruh kapitalisme dan sistem demokrasi liberal yang mampu menggiring ke arah homogenisasi budaya, yang menyebabkan setiap produksi film di tiap negara, tampak sama dan seragam, mulai narasi film, karakter kepahlawanan, bentuk arsitektur, mobil, fashion, gadget dan gaya hidup serta budaya.

Homogenisasi Film barat (holliwood) menyebabkan nilai film lokalitas semakin kehilangan karakter keunikannya. Film nyaris membuat dunia tampak seragam dengan berbagai ikonitas film barat yang dapat ditemui dimana saja mall, restoran, cafe, tempat hiburan, acara TV, fashion show, gaya belanja, gaya pakaian, gaya rekreasi, gaya bermobil, gaya berkomunikasi. Superman adalah adalah salah satu contoh simbol utama homogenisasi film. Yang menjadi ikon dari budaya global dan budaya lokal sekaligus.

Film kini menjadi hal yang tak terpisahkan dari penciptaan gaya hidup, yaitu gaya konsumsi yang dimuati dengan nilai tanda dan makna simbolik tertentu untuk membentuk apa yang disebut gaya hidup modern.

Yasraf Amir piliang misalnya melihat dunia tanpa batas, Dunia tanpa batas dicirikan oleh proses penghancuran batas, pendekonstruksian benteng, penghancuran tembok pemisah dan batas-batas yang menggiring pada budaya global.

Film telah menimbulkan persoalan serius akan batas (limit) dan tapal batas (border),  termasuk batas dan tapal batas dalam lingkungan urban, batas kota dan desa, negara maju dan negara miskin, ada semacam garis batas tegas yang membatasi antara konsep itu. Antara gaya hidup kota dan desa yang secara gamblang dimasukan dalam produksi film barat.

Beberapa negara termasuk Indonesia mengalami dampak tersebut, mulai lunturnya batas di dunia tanpa batas telah memaksa budaya lokalitas menerima pengaruh dari berbagai kekuatan budaya yang telah didekonstruksikan dalam film, baik eksternal maupun internal dalam budaya global dan lokal.

Perfilman di Indonesia

Lima tahun terakhir ini produksi film indonesia mengalami kemunduran dari segi kualitas karena hanya menciptakan jenis film budaya lokal dengan pasar lokal, yakni film-flm dengan tema horor pocong ngesot sampai pocong mupeng, yang sesekali diselingi adegan syur maupun artis sexy yang didatangkan dari negeri paman sam.

Membicarakan tentang globalisasi gaya hidup film tidak dapat dipisahkan dari membicarakan tentang identitas (cultural identity) dan perbedaan (culturan diffeence) sebagai dua fondasi utama dari gaya hidup. Gaya hidup dibangun sebagai cara untuk memperlihatkan identitas sekaligus melepaskan hasrat untuk berbeda, china sudah mulai dengan hal itu dimana produksi film-film yang diciptakan berhubungan dengan sejarah atau perjuangan china yang dapat bersaing dipasar global dan telah kita nikmati bersama.

Pada tingkat kultural globalisasi Film dapat dipandang sebagai kontradiksi budaya berupa kehadiran dan kecenderungan budaya berseberangan yang ditampilkan dalam sebuah slide film. Di satu pihak, film dilihat sebagai homogenitas budaya yaitu penyeragaman kebudayaan-kebudayaan yang sesungguhnya berbeda. Namun dipihak lain film juga dilihat sebagai heterogenitas budaya, yaitu sebagai pengakuan akan nilai-nilai tradisi lokal.

Globalisasi Film tidak mengantikan atau mematikan budaya lokal, akan tetapi malah secara signifikan menyumbang bagi pengembangan dirinya, melalui proses pertukaran budaya. Misalnya aneka budaya lokal kita meliputi makanan, arsitektur, pakaian, dan seni diangkat dalam film yang berkualitas yang dapat bersaing dalam pasar global yang akan menciptakan proses pertukaran saling berpengaruh, hibriditas dan silang budaya yang jauh lebih kompleks. Film dapat dilihat sebagai pengkayaan kebudayaan, yang akan mendorong ke arah reinterpretasi budaya lokal sehingga ia tampak lebih kaya dan kreatif.

Selain itu film dapat dilihat pula sebagai penyatuan kebudayaan-kebudayaan berbeda kedalam budaya tunggal (monoculture) seperti Superman, Batman, Iron Man dll., tetapi sekaligus juga sebagai penguatan budaya dan nilai-nilai lokal (heteroculture) misal Gatotkaca, Jaka Tarub, dan Wiro Sableng.

Memang dalam produksi film yang berkualitas memerlukan biaya yang sangat besar, dan beberapa pertimbangan apakah nanti film akan laku, seberapa besar untungnya, hal itu merupakan pertanyaan yang menghantui produksi film.

Tidak setiap sineas pandai selalu sukses dalam memproduksi film, artis terkenal yang didatangkan dari negeri paman sam, sampai lokasi syuting diluar negeri tidak menjamin sebuah film dapat bersaing di pasar global.

 Konsumsi masyarakat kapitalisme global bukan hanya sekadar sarana pemenuhan nilai kebutuhan dalam makna sempit, tetapi bagaimana membangun nilai-nilai simbolik lokal, kultur, budaya, dan kekayaan alam indonesia menjadi menarik dan layak dipertontonkan. Karena dengan film nilai simbolik dapat tercipta.

 

Daftar Pustaka

Storey, John, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop, Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Piliang, Y. Amir, Dunia yang Dilipat; Tamasya Melampaui Batas Kebudayaan, Bandung: Pustaka Matahari, 2011.

Adlin, Alfathri (ed.), Menggeledah Hasrat; Pendekatan Multi Perspektif, Yogyakarta: Jalasutra, 2006.

Rogers, Mary, Barbie Culture; Ikon Budaya Konsumerisme, Yogyakarta: Penerbit Bentang, 2003.

 

Dieter, Nohlan (ed.), Kamus Dunia Ketiga, Jakarta: Grasindo, 2004.

 

 


Nama                          : Heru Ferdiansyah

Nim                             : 3301410077

Jurusan/Prodi            : PKn/PPKn

Mata Kuliah              : Persepektif Global

Dosen                          : Drs. At. Sugeng Priyanto, M.si.

  Giri Harto Wiratomo

 

 

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar